Menakar Adhi Makayasa Kapolri Pengganti Jendral Pol Tito Karnavian

oleh -122 views

Fokuskriminal.com | Pekanbaru- JERNIH pemerintahan dilihat dari caranya menakar para pemimpin, seperti kemurnian air yang telah melalui pengujian berjenjang untuk kemudian ‘halal’ konsumsi.

 

Loading...

Satu periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menunjukkan kinerja ‘jernih’ pemerintahan, para menteri silih berganti sesuai dengan takaran politik dan kapasitas yang memadai.

 

Begitu pun yang dilakukan di tubuh Polri, penjaringan pucuk pimpinan tertinggi (Kapolri) selalui melalui uji kemampuan optimal untuk menghasilkan kepemimpinan yang mumpuni.

 

Takaran prestisius itu bisa dilihat dari prestasi mendasar di Akpol, mereka para penerima Adhi Makayasa layak untuk menduduki jabatan tertinggi sebagai bukti yang mumpuni.

 

Namun untuk dkketahui, pascarevormasi 1998, baru ada satu perwira tinggi Polri penerima Adhi Makayasa yang berhasil menerima jabatan bintang empat. Dia adalah Jenderal (Purn) Sutanto, jebolan terbaik Akpol 1973.

 

Sutanto menjabat sebagai Kapolri sejak tahun 2005 hingga 2008 di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kemudian menduduki jabatan sebagai KepalaBadan Intelijen Negara(BIN) pada akhir 2011.

 

Setelah Jenderal Sutanto, SBY kemudian melakukan tiga kali pergantian Kapolri diluar Adhi Makayasa, mereka adalah Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri, Jenderal (Purn) Timur Pradopo, dan terakhir Jenderal (Purn) Sutarman.

 

Memasuki era kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) pada 2015, barulah terjadi penyegaran bagi para alumni terbaik Akpol penerima Adhi Makayasa.

 

Presiden Jokowi melantik lulusan terbaik Akpol 1982 Jenderal Badrodin Haiti sebagai Kapolri meski ditengah polemik ‘matahari kembar’.

 

Ketika itu terdapat dua jenderal bintang empat di tubuh Polri, Budi Gunawan yang sebelumnya calon tunggal Kapolri, waktu itu terganjal masalah hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Memasuki masa pensiun Badrodin Haiti pada Juli 2016, Presiden Jokowi kembali mengajukan calon tunggal Kapolri dari peraih Adhi Makayasa Akpol 1987.

 

Dialah Jenderal (Pol) Tito Karnavian, sepak terjangnya melucuti keluarga cendana dan segudang prestasi dalam pemberantasan terorisme menarik perhatian Jokowi untuk menjadikannya pimpinan tertinggi Polri.

 

Kini memasuki era kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, Tito Karnavian telah tiga tahun menjabat Kapolri, dihembuskan peluang Tito untuk satu kursi menteri.

 

Menakar siapa orang yang tepat untuk menggantikan posisi Jenderal Tito Karnavian, besar kemungkinan adalah penerima Adhi Makayasa yang prestisus.

 

Hasil penelusuran, terdapat cukup banyak perwira tinggi Polri berprestasi, namun jika dilihat dari peraih Adhi Makayasa, hanya ada sedikit yang tersisa.

 

Bahkan dari sekian banyak pati penerima Adhi Makayasa pascajebolan Akpol 1983, saat ini hanya satu yang beroleh pangkat komjen yang prestisius, yaitu Moechgiyarto (1986), saat ini dia menjabat Irwasum Polri.

 

Komjen Moechgiyarto digadang-gadangkan menjadi yang paling diunggulkan untuk menjadi Kapolri setelah Tito karena senioritas dan memiliki karir begitu mentereng.

 

Pesaingnya sesama penerima Adhi Makayasa adalah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel yang sejak April 2019 dilantik sebagai Kapolda Jawa Tengah (Jateng).

 

Sementara itu diluar peraih Adhi Makayasa, yang juga dimunculkan namanya sebagai calon kuat Kapolri dan Wakapolri adalah Kabareskrim Komjen Idham Azis dan Kalemdikpol Komjen Arief Sulistyanto.** ton

Sumber : riaubook