UNRI Teliti Lebah Madu Galo-galo Trigona Sawahlunto

oleh -

Tiga mahasiswa UNRI jurusan Biologi melakukan penelitian tentang karakter lebah madu Trigona di Taman Buah Kandi, Sawahlunto. Hasil penelitian mereka akan dianalisis di laboratoriun biologi UNRI. Foto : IYD

Sawahlunto, fokrim – Tiga Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Riau (UNRI) yakni Rizki Hidayat, Natasha Aqla, dan Muhammad Septiano, tertarik melakukan penelitian intensif pengamatan lebah galo-galo/kelulut atau trigona,stingless bee yang dibudidayakan Hery Setiawan di Taman Buah, Kandi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Ketertarikan mereka diilhami dari saran dan masukan dosen pembimbing mereka dari kampus universitas negeri lancang kuning tersebut. Mereka ditugasi untuk melakukan penelitian intensif mengenai karakter lebah galo-galo selama sepekan, setelah memperoleh data sementara dilapangan mahasiswa ini akan menganalisanya di kampus sekembalinya dari Sawahlunto nanti.

Rizki Hidayat kepada harianindonesia.id Minggu (21/3/21) petang mengatakan, penelitian yang dilakukannya berkaitan dengan sebaran vegitasi lebah galo-galo mulai dari kotak koloninya hingga ke tempat lebah mencari makan. Daria hasil pengamatannya, sebaran vegitasi sementara berjumlah sekitar 100 meter untuk galo-galo jenis tama dan torasika. Dikemukakannya, untuk mengetahui jarak vegitasi dilakukan berdasarkan jumlah tanaman berbunga atau tidak.

Anak muda milenial ini mengemukakan hasil pengamatannya bahwa, idealnya untuk membudidayakan lebah galo-galo agar mampu memproduksi madu dengan jumlah besar sebaiknya kotak koloni ditempatkan dibawah pohon-pohon rindang dengan mempedomani suhu tertinggi sekitar 32 derjad Celcius. Karena jika udara diatas itu maka galo-galo agak sulit berkembang.

Sementara Natasha Agla, dan Muahmaad Septiano mengungkapkan penelitian yang dia lakukan berbeda dengan Rizki, tapi lebih ke soal faktor lingkungan, ritme aktifitas terbang, dan mengamati saat lebah membawa sari nektar dan resin makanan dari tempatnya makan ke kotak koloni sebagai kandangnya dilokasi yang sama, Taman Kandi.

Dalam penelitian, ketiganya menggunakan alat bantu pendeteksi intensitas cahaya lux meter, dan termo hydrometer untuk mengukur temperatur dan kelembaban, serta satu unit kamera DSLR. Hasil penelitian yang dapat mereka rumuskan dilapangan baru sebatas nektar dan faktor lingkungan yang sudah diketahui dengan pasti dan nantinya akan di analisis setelah mereka kembali ke kampus UNRI di Pekanbaru.

Dari perspektif lain, lanjut Natasha, pengamatan juga dilakukan terhadap aktifitas penerbangan pada lebah galo-galo jenis heterotrigona irama, serta memperhatikan juga struktur bangunan pintu masuk atau moncong koloni galo-galo yang tidak sama atau bervariasi. Dari analisa lapangannya, hal itu mungkin saja terjadi akibat pengaruh dari intensitas cahaya panas matahari, dan juga sebagai pelindung keselamatan mereka dari berbagai predator.

“Yang kami temukan dan dalami diameter lubang masuk atau moncong koloni bervariasi antara 1 hingga 2 cm untuk lebah jenis heterotrigona irama, sedangkan untuk lebah jenis geneotrigona torasika berkisar 4 hingga 6 cm. Kendati demikian, hasil pengamatan yang kami lakukan akan jadi bahan diskusi dan analisis setelah kami kembali ke kampus.” Tutur mahasiswi berkaca minus ini.

Sementara itu, Hery Setiawan, kepada harianindonesia.id mengakui, saat ini dia telah memilki 115 koloni galo-galo dari berbagai jenis termasuk yang diteliti mahasiswa UNRI tersebut di Taman Buah Kandi. Sedangkan untuk kelompok pembudidaya lain yang berhasil ada 2 kelompok di Sawahlunto, 2 kelompok di Sijunjung 2, dan 1 kelompok di Lintau, jika ditotal sudah sekitar 700 koloni yang berhasil dikembangkan.

“Alhamdulillah, kami akan terus kembangkan sehingga Sawahlunto mampu membangun brand sebagai produsen madu galo-galo. Dengan demikian, dalam waktu dekat saya dan beberapa sahabat akan membuat aplikasi untuk menyatukan para pembudidaya lebah madu dan galo-galo dengan nama “Minang Honey”. ungkap Hery. (Sumber. harianindonesia.id)

No More Posts Available.

No more pages to load.