Komdigi Masih Telusuri Pendekatan Terbaik untuk Peta Jalan AI

Teknologi –, JAKARTA— Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) belum menentukan pendekatan khusus yang akan digunakan dalam penyusunan peta jalan (road map) kecerdasan buatan (AI). 

Sekretaris Ahli Bidang Sosial Ekonomi dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), R. Wijaya Kusumawardhana menyampaikan, pihaknya masih menelusuri metode yang paling efektif.

Kami belum menentukan pilihan, masih dalam proses. Nanti akan masuk ke dalamroad mapAI. Saya tidak ingin terburu-buru, tapi kami akan mencari opsi terbaik,” ujar Wijaya dalam acara Ngopi Bareng Media di Jakarta pada Jumat (11/7/2025).

Ia menyebutkan, salah satu acuan yang dipertimbangkan adalah Undang-Undang Kecerdasan Artifisial yang disusun oleh Uni Eropa atau dikenal sebagai EU AI Act. Meskipun mengakui aturan tersebut cukup lengkap, Wijaya menegaskan pemerintah belum membuat keputusan akhir.

Dalam penyusunan peta jalan ini, lanjut Wijaya, Komdigi tidak hanya mengandalkan pandangan dari dalam organisasi saja, tetapi juga mempertimbangkan masukan dari kementerian dan sektor lainnya.

“Karena pemerintah bukan hanya Komdigi, pemerintah juga terdiri dari kementerian-kementerian lain. Oleh karena itu, kami akan mendengarkan. Namun yang paling utama adalah, kami harus bersifat integratif. Sistemnya harus mampu saling terhubung satu sama lain. Kita bisa terhubung dengan yang lain. Itulah yang paling penting,” katanya.

Ia menilai bahwa membangun sistem yang terintegrasi dan terbuka sangat penting agar dapat saling terhubung antar sektor serta mampu bekerja sama secara nasional. Dalam hal ini, Indonesia juga dapat mengambil pelajaran dari negara-negara lain yang lebih maju, seperti Singapura.

Wijaya juga membandingkan ekosistem digital Indonesia dengan Singapura yang dianggap sudah sangat berkembang. Ia menyoroti bagaimana ekspor teknologi informasi dan komunikasi Indonesia mengalami penurunan dibandingkan dengan Singapura dalam periode 2010 hingga 2021.

“Kami dari sekitar 11%, ternyata semakin lama semakin menurun menjadi sekitar 4% atau 5%. Sementara untuk Singapura, yang tadi hanya 6%, kini justru semakin meningkat. Singapura sudah sangat baik karena apa? Ekosistem yang dibangun sudah sangat maju dan stabil,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan Singapura tidak terlepas dari ukuran negara yang kecil, integrasi sistem yang baik, serta kerja sama yang luas dengan lembaga riset internasional.

“Singapura ini bisa memanfaatkan research-researchdari luar, bekerja sama. Nah, ini salah satu tantangan kita yaitu berani terbuka dan mengakui bahwa kita juga harus…open-mindeduntuk dapat bekerja sama dengan berbagai pihak yang memang mampu membantu kita dalam mengembangkan diri lebih jauh,” tegasnya.

Related posts