Pertamina Uji Bioavtur dari Minyak Jelantah, Langkah Baru Energi Hijau Indonesia

Pertamina Menguji Terbang Bioavtur yang Dihasilkan dari Minyak Jelantah, Langkah Baru dalam Energi Bersih Nasional

Pertamina Menguji Penerbangan Bioavtur yang Dihasilkan dari Minyak Jelantah, Tanda Baru Perkembangan Energi Hijau Nasional

Perusahaan Kilang Pertamina Internasional (KPI) berhasil menghasilkan bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan menggunakan minyak jelantah.

Lintaskriminal.co.id -/ Advertorial

Yasmin FE 25 Agustus, 14.37 WIB 25 Agustus, 14.37 WIB

Lintaskriminal.co.id -–Industri penerbangan nasional mengalami pencapaian penting dalam langkah peralihan energi.

Perusahaan Kilang Pertamina Internasional (KPI) berhasil menghasilkan bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang berasal dari minyak jelantah, yang digunakan dalam kegiatan “Special Flight Pertamina Sustainable Aviation Fuel”.

Penerbangan upacara ini selanjutnya diikuti oleh penerbangan komersial pertama maskapai Pelita Air dengan rute Jakarta–Denpasar, Selasa (20/8/2025).

Produk yang bernama Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) dihasilkan di Kilang Cilacap menggunakan bahan bakuused cooking oil (UCO). 

Kepala Eksekutif KPI Taufik Aditiyawarman menekankan bahwa penerbangan tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menghadirkan produk yang dimiliki sendiri.

“PertaminaSAF merupakan langkah penting di sektor penerbangan Indonesia. Penerbangan ini menunjukkan bahwa kita mampu menghasilkan bahan bakar pesawat masa depan,” katanya dalam pernyataan resmi, Jumat (22/8/2025).

PertaminaSAF telah menjalani berbagai pengujian kualitas di laboratorium KPI Unit Cilacap serta lembaga independen Lemigas. Produk ini diproduksi menggunakan teknologico-processingmenggunakan katalis Merah Putih buatan dalam negeri yang telah memenuhi standar mutu bahan bakar internasional ASTM D1655 serta DefStan 91-091.

Taufik menambahkan, PertaminaSAF juga merupakan bioavtur berkelanjutan pertama di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat internasional ISCC CORSIA dengan bahan baku campuran minyak jelantah. Produk ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 81 persen dibandingkan avtur berbahan fosil.

Kelebihan lainnya terdapat pada titik beku (freezing point) yang lebih rendah dibandingkan spesifikasi internasional. Menurut Taufik, standar internasional menentukan titik beku avtur pada minus 47 derajat celsius, sementara PertaminaSAF dapat lebih rendah dari angka tersebut.

“PertaminaSAF tidak akan mengalami pembekuan dalam kondisi ekstrem, sehingga aman digunakan selama penerbangan,” ujarnya.

Masa depan, produksi bioavtur ini juga akan diuji di Kilang Dumai dan Kilang Balongan. Taufik berharap PertaminaSAF akan digunakan secara luas dalam industri penerbangan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Pengembangan PertaminaSAF dihasilkan dari kerja sama tiga perusahaan yang berada di bawah naungan Pertamina. KPI bertindak sebagai produsen, Pertamina Patra Niaga menyediakan stok minyak jelantah serta memasarkan produk tersebut, sedangkan Pelita Air Services menjadi pengguna langsung bahan bakar tersebut.

“KPI bersama PertaminaSAF siap menjadi bagian dari penerbangan masa depan. Inovasi ini akan menjadi keunggulan dan memperkuat posisi Pertamina dalam peralihan energi global,” kata Taufik.

   

Copyright Lintaskriminal.co.id -2025

Related posts