BMKG Tekankan Syarat Operasi Modifikasi Cuaca untuk Kendalikan Karhutla

10drama.com –, Jakarta– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan bahwa upaya pengendalian kebakaran hutan serta lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan OperasiModifikasi Cuaca(OMC). Proses yang juga disebut sebagai teknologi hujan buatan ini memerlukan kondisi intensitas pertumbuhan awan yang tinggi. Sebaliknya, tidak dapat dilaksanakan apabila tidak terdapat awan yang layak untuk dihujani.

Kondisi tersebut mengharuskan adanya persiapan alternatif dengan meningkatkan patroli darat, pengawasan ketat di lokasi yang rentan, serta memperkuat strategi pencegahan lainnya. “Periode akhir Juli hingga awal Agustus 2025 merupakan masa kritis yang memerlukan perhatian khusus, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam pernyataan resmi, Senin 28 Juli 2025.

Dwikorita menjelaskan bahwa prediksi cuaca dari BMKG menunjukkan adanya potensi pertumbuhan awan yang tinggi di Sumatera pada tanggal 29 hingga 31 Juli, namun mengalami penurunan sementara pada awal Agustus, lalu kembali meningkat pada 3 hingga 4 Agustus. Sementara itu, di Kalimantan, pertumbuhan awan masih berada dalam kategori sedang hingga 30 Juli, dan mulai meningkat pada 31 Juli hingga mencapai puncaknya pada 3 hingga 4 Agustus.

“Pada saat potensi pertumbuhan awan hujan rendah dan tingkat bahaya kebakaran (FDRS) tinggi, seluruh pihak terkait di wilayah tersebut perlu mengaktifkan sistem peringatan darurat, termasuk pemetaan daerah rawan, pengaturan sumber daya penanggulangan, serta pencegahan kebakaran secara dini,” katanya.

Dwikorita menjelaskan hubungan yang sangat erat antara curah hujan dengan tingkat kemudahan lahan terbakar. Penganalisisan data curah hujan dasarian serta indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan bahwa semakin sedikit curah hujan, maka tingkat kekeringan lapisan bahan bakar ringan di permukaan tanah semakin meningkat, sehingga risiko lahan mudah terbakar menjadi lebih besar.

“Oleh karena itu, pengawasan curah hujan tidak hanya berguna untuk memprediksi kemungkinan hujan, tetapi juga menjadi petunjuk utama dalam menentukan tahapan rentan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya menambahkan.

Untuk mendukung upaya penanggulangan, BMKG bekerja sama dengan BNPB dan TNI AU, didukung oleh Pemerintah Provinsi, telah melakukan modifikasi cuaca di beberapa provinsi yang menjadi prioritas daerah rentan kebakaran hutan, seperti Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Jambi, dan Kalimantan Barat. Tingkat efektivitas penyemaian hujan di wilayah-wilayah tersebut dilaporkan mencapai 85 hingga 100 persen, dengan jumlah curah hujan yang terakumulasi melebihi 586 juta meter kubik.

Di Provinsi Riau, jumlah titik panas (hotspot) yang sebelumnya mencapai 173 titik pada 19 Juli dikatakan berhasil diturunkan menjadi nol pada 28 Juli setelah Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan secara terus-menerus sejak 21 Juli. Efek serupa juga dilaporkan terjadi di Sumatera Barat, yang mencatat penurunan dari 18 hotspot menjadi nol dalam waktu seminggu. Selain itu, indikator keberhasilan lainnya juga terlihat dari penurunan jumlah stasiun Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) yang berada dalam kategori rentan, khususnya di Riau dan Sumatera Selatan.

Dwikorita kembali menegaskan bahwa keberhasilan hujan buatan hanya dapat tercapai jika kondisi atmosfer mendukung. Ia meminta pemerintah daerah dan seluruh komponen penanggulangan kebakaran hutan serta lahan untuk secara rinci memetakan titik-titik yang rentan, menyusun kalender periode kritis sesuai dengan kondisi setempat, serta menyiapkan berbagai skenario intervensi baik berbasis cuaca maupun non-cuaca (seperti patroli, sosialisasi masyarakat, dan larangan pembakaran lahan).

“Jika awan tidak terbentuk, maka penyemaian atau OMC tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, strategi pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak boleh hanya mengandalkan satu pendekatan saja dan harus bersifat multi lapis,” katanya.

Related posts