Sampah Terus Jadi Masalah, Ahli ITB Sebut Kuncinya pada Perilaku Manusia

10drama.com –Sampah rumah tangga dan pabrik masih menjadi isu yang memerlukan penyelesaian segera di Jawa Barat.

Meskipun beberapa metode pengelolaan sampah dapat dipertimbangkan, belum ada yang dianggap efisien dalam menyelesaikan masalah sampah.

Bukan hanya isu teknis dan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan, tetapi tingkah laku masyarakat menjadi faktor utama dalam menyelesaikan masalah sampah.

Kepala Wilayah Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung Sugeng Joko Sarwono, Ph.D. mengatakan, isu sampah bersifat multidimensi.

Salah satu contohnya adalah teknologi, karena sebenarnya banyak inovasi yang diciptakan ilmuwan Indonesia dalam mengatasi limbah. Misalnya melalui insinerator, bakteri, dan cacing.

“Masalah pokok dalam pengelolaan sampah adalah sikap manusia. Karena, kita belum terbiasa memilah sampah. Padahal, untuk mengelola sampah dengan baik, harus dilakukan pemilahan. Jika tidak dipilah, akan menyulitkan metode pengelolaannya,” ujar Sugeng dalam forum Indonesia Green Connect di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, kemarin.

Akibat tidak memilah sampah ke tempat pembuangan, menurut Sugeng, satu-satunya metode pengelolaan sampah adalah dengan dibakar atau menggunakan insinerator. Dengan teknologi ini, masalah utamanya adalah ketersediaan lahan, karena tidak dapat menggunakan lahan di tengah kota.

Menurut Sugeng, sebenarnya masyarakat telah melakukan upaya dalam mengelola sampah. Contohnya, dengan memanfaatkan cacing dan bakteri, serta insinerator berukuran kecil. Namun, jumlah sampah di Bandung sangat besar. Akibatnya, belum ada lahan yang cukup untuk memproses sampah tersebut.

“Masalah lainnya, tingkat pemahaman masyarakat dalam memilah sampah belum menyeluruh. Termasuk pemahaman mengenai teknologi insinerator yang masih dianggap berisiko,” kata Sugeng.

Penerapan teknologi hijau

Indonesia Green Connect adalah ajang dialog yang menghubungkan para akademisi, sektor industri, dan pengambil kebijakan. Acara ini bertujuan untuk membahas penerapan teknologi ramah lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama.

Sugen menjelaskan, ‘hijau’ memiliki makna bersih, kebersihan berarti sehat, dan kesehatan merupakan sesuatu yang ramah terhadap lingkungan.

Tujuan dari forum ini adalah menghasilkan sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, ekosistem, dan lingkungan.

Sugeng mengakui bahwa penerapan teknologi ekonomi hijau ini merupakan proses yang panjang dan tidak mudah. Misalnya, masalah Sungai Citarum bukan hanya terkait lingkungan dan teknologi, tetapi juga melibatkan faktor sosial serta perilaku manusia.

Karena, ketika Sungai Citarum bersih, bagaimana dengan penduduk di sekitarnya, apakah mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai? Padahal, jika Citarum bersih, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, semuanya harus dilihat secara makro dan mikro.

Semoga dengan terus-menerus melakukan literasi secara luas, serta menghasilkan teknologi yang ramah lingkungan, kita secara perlahan mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik. Saat ini memang telah terjadi kemajuan perubahan, namun tidak mudah,” kata Sugeng.

Pendiri dan CTO Energy Economy Indonesia (Ecadin) Syarif Riyadi mengatakan, Indonesia Green Connect 2025 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 10 Agustus. Tujuannya adalah agar pada tahun 2060, Indonesia mampu mencapai emisi nol bersih.

“Akademisi dan sektor industri mendorong pemerintah untuk menyusun peraturan yang berbasis teknologi guna mencapai emisi nol bersih. Yang terpenting, pemerintah berperan sebagai jembatan antara akademisi dan industri agar dapat menyentuh masyarakat,” kata Syarif. (*)

Related posts