, Jakarta – Gencatan senjatayang dimulai pada 24 Juni 2025 mengakhiri perang berlangsung selama 12 hari antara Iran dan Israel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah selesai dan tidak akan terjadi lagi.
“Karena kedua negara sudah lelah dan kehabisan tenaga,” ujar Trump setelah menghadiri KTT NATO di Den Haag pada Rabu waktu setempat, 25 Juni 2025.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta pemimpin Iran masing-masing menyatakan bahwa berhentinya konflik sementara tersebut dilakukan atas inisiatif mereka sendiri.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 24 Juni 2025, gencatan senjata dimulai dari perintah Israel yang meminta Amerika Serikat atau AS terlibat dalam perselisihan mereka melawan Iran. Kemudian pada Sabtu, 21 Juni 2025, AS melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang berada di Fordow, Natanz, dan Isfahan, yang menurut Trump berhasil menghancurkan ketiga lokasi tersebut.
Kemudian pada hari Senin, 23 Juni 2025, Iran melancarkan serangan balasan dengan melepaskan rudal ke pangkalan udara terbesar milik Amerika Serikat di Timur Tengah, yaitu Al Udeid di Qatar. Kondisi saat itu menunjukkan bahwa wilayah Timur Tengah sedang berada di ambang terjadinya perang yang lebih besar dan berlangsung lama.
Namun, beberapa jam kemudian, Trump mengumumkan melalui platform media sosialnya, Truth Social, bahwa “Israel dan Iran telah mencapai kesepakatan penuh untuk menerapkan GENCATAN SENJATA secara total dan menyeluruh.”
Trump menggambarkan pertempuran itu sebagai “Perang 12 Hari” yang bisa berlangsung bertahun-tahun dan merusak wilayah Timur Tengah.
Namun, empat jam setelah gencatan senjata diumumkan, Israel melakukan serangan terhadap Iran sebagai tanggapan terhadap dugaan peluncuran dua rudal balistik dari wilayah Iran yang memasuki ruang udaranya. Rudal-rudal tersebut berhasil dihentikan. Serangan balasan Israel menghancurkan sebuah menara radar di dekat Teheran.
Trump juga merespons dengan marah. “Saya sangat tidak puas Israel melakukan serangan pagi ini,” katanya kepada para jurnalis.
Iran menyangkal telah melepaskan rudal tersebut. Pada pukul 11:30 GMT, gencatan senjata kembali berlaku. Trump kemudian berbicara dengan Netanyahu.
“ISRAEL tidak akan terus melakukan serangan terhadap Iran. Seluruh pesawat akan kembali ke pangkalan masing-masing, sambil melaksanakan ‘Gelombang Pesawat’ yang ramah menuju arah Iran. Tidak ada korban jiwa, Gencatan Senjata resmi berlaku!” tulis Trump di Truth Social.
Kemungkinan Terulangnya Pertikaian Antar Pihak
Iran dan Israel telah mencapai sebuah kesepakatan untuk sebuahgencatan senjatanamun masih belum mencapai perdamaian yang sempurna.
Mengenai program nuklir Iran, para ahli melihat dua kemungkinan arah yang akan diambil. Salah satu opsi adalah dilanjutkannya pengawasan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap instalasi nuklir Iran serta tercapainya perjanjian baru, yang bisa mirip dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015 yang dicanangkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Perjanjian semacam ini dapat membantu Iran mengurangi tekanan global terhadap program nuklirnya. Penting untuk dicatat bahwa yang mundur dari JCPOA adalah Amerika Serikat pada masa Trump, bukan Iran.
Di sini, peran negara-negara Eropa sangat krusial. Tiga negara Eropa, yaitu Inggris, Prancis, dan Jerman, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, pada 20 Juni 2025, bersama dengan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, dalam usaha menghindari serangan dari Amerika Serikat.
Meskipun usaha ini tidak berhasil, Uni Eropa masih memiliki kemampuan sebagai penyeimbang kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, meskipun mungkin tidak cukup kuat untuk secara mandiri memaksa Iran melakukan kompromi.
Menurut Ioannis Kotoulas, seorang dosen geopolitik di Universitas Athena, Iran kemungkinan akan berusaha membuka jalur diplomasi dengan Eropa melalui penawaran peningkatan pengawasan internasional serta komitmen tambahan terhadap program nuklirnya.
Kotoulas juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat mungkin bersedia mengakui program nuklir Iran yang bersifat damai. Bahkan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah mengatakan hal itu. Ia juga menegaskan bahwa kemungkinan besar AS tidak akan memaksakan perubahan pemerintahan di Iran. Dalam situasi ini, Eropa menjadi satu-satunya mitra diplomatik yang masuk akal bagi Iran, karena Rusia kini tidak lagi dapat dipercaya.
Namun, Israel selama ini tetap menentang adanya perjanjian nuklir antara negara-negara Barat dan Iran, dan kemungkinan besar akan menolak kesepakatan baru yang serupa.
Dosen sejarah Iran dari Universitas St Andrews, Ali Ansari, menyatakan bahwa segalanya sangat bergantung pada dinamika politik dalam negeri di Iran dan bagaimana pendekatan pengurangan ketegangan dilakukan. Ia juga menunjukkan bahwa saat ini sudah ada permintaan dari berbagai kelompok di dalam negeri agar pengayaan uranium dihentikan.
Pada hari Senin, 23 Juni 2025, komite keamanan nasional di parlemen Iran menyetujui rancangan undang-undang yang bertujuan menghentikan seluruh kerja sama Teheran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), apabila nanti disetujui dalam sidang pleno.
Di sisi lain, Trump kembali menyampaikan melalui media sosial bahwa dirinya tidak akan membiarkan program nuklir Iran terus berlanjut. Selama ketegangan yang mendasar ini belum selesai, siklus serangan dan balasan yang bisa merugikan Amerika Serikat kemungkinan besar hanya tinggal menunggu waktu.





