PAUD Mutiara Harapan Islamic School Tak Mampu Bina Anak Hiperaktif

oleh -

Pangkalpinang, FokusKriminal.com –Ternyata sekolah dengan biaya yang sangat mahal dengan fasilitas wah tidak menjamin tenaga guru yang diharapkan profesional dan sabar dalam mendidik anak kita.

Hal itu yang diungkapkan oleh Fatiah seorang ibu muda yang kecewa terhadap salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini  (PAUD) Mutiara Harapan Islamic School, jalan Kartini Utama Raya No. 25  Selindung Baru Kecamatan Selindung Kota Pangkalpinang.

Pagi tadi Rabu (04/03/2020), sekira jam 10.15 wib, Fatiah kembali mendatangi PAUD Mutiara Harapan, sebelumnya dua minggu yang lalu ibu muda yang berprofesi sebagai notaris ini sudah menemui pihak sekolah PAUD  tersebut, namun tampaknya keinginan Fatiah minta permasalahannya diselesaikan dengan baik-baik tidak ditanggapi dengan serius oleh pihak sekolah.

Pasalnya, sampai saat ini pihak Sekolah terkesan membiarkan permasalahan yang alami ibu muda terhadap anaknya yang dititipkan bersekolah di PAUD  Mutiara Harapan tidak sesuai yang diharapkan.

Anaknya dituding oleh seorang oknum guru pengajar justru sebagai wali kelas anaknya menyampaikan perilaku hiperaktif anaknya diruang group WA (WhatsApp-red) para wali murid dan guru. Sehingga keberadaan anaknya dianggap mengganggu
ketidaknyamanan  anak-anak yang lainnya, bahkan  oknum guru ini meminta kepada ibu muda itu agar menyiapkan seorang ‘Shadow Teacher’ atau guru pendamping untuk anaknya selama disekolah tersebut.

” Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan untuk menyiapkan seorang kreator/pendamping untuk anak saya selama untuk kebaikan anak saya hanya saya tidak terima, cara ibu gurunya menyampaikan permasalahan anak saya kepada orang lain bahkan, sampai saat ini pun ibu gurunya tidak ada niat baik untuk meminta maaf kepada saya dan saya merasa dibuly oleh ibu-ibu, seolah-olah saya tidak bisa mendidik anak saya,” Ungkap Fatiah kepada Jurnalis Babel, Rabu (4/03/2020).

Ditambahkannya,” kami sebagai orang tua menitipkan anak kami untuk di didik bukan dibully atau diceritakan keburukan anak kami kepada orang lainnya, dan kami sekolahkan anak kami disitu karena dijamin kualitasnya dan  dengan biaya mahal, eh nyatanya pihak sekolah membiarkan permasalahan berlarut,’ ujar ibu muda yang berprofesi sebagai notaris.

Diceritakan oleh Fatiah orang tua dari Jaka, peristiwa bermula saat Miss  Nu menyampaikan sikap hiperaktif anak didiknya Jaka, kepada para wali murid melalui pesan WhatsApp (WA-red). Dan kondisi ini kemudian berkembang dan menjadi bahan pembahasan di WA tersebut. Akibatnya Fatiah selaku orang tua merasa sedih dan kecewa karena anaknya yang selama ini tidak banyak tingkah malah dituding sedemikian rupa.

” Saya sudah beberapa kali datang kesekolah untuk bertemu dengan guru tersebut, namun tidak ada niat baik dari pihak sekolah untuk mempertemukan kami dengan alasan harus izin dari pengurus sekolah yang ada dipusat,” ujar Fatiah dengan wajah sedih.

Sebelum mengambil langkah untuk melaporkan oknum guru itu, Fatiah sendiri juga telah menyarankan kepada pihak sekolah agar menyampaikan permintaan maaf di grup Whatssap wali murid.

Namun sekali lagi pihak sekolah tidak respon permintaan itu. Bahkan sekali lagi pihak sekolah harus meminta izin kepada pengurus sekolah yang ada di Jakarta.

” Memang tidak ada niat baik dari mereka. Mereka bilang anak saya hiperaktif dan harus memiliki pendamping selama bersekolah, ini artinya pihak sekolah sudah melakukan wan prestasi terhadap pernyataan perjanjian sewaktu saya awal mendaftar anak saya, jadi wajar saya minta pihak sekolah mengembalikan dana yang sudah saya bayar ke sekolah karena pihak sekolah tidak berhasil mendidik  anak saya,” Tegasnya.

Sementara itu, Jurnalis Babel berupaya mencari informasi terkait permasalahan yang serupa dengan yang dialami oleh Fatiah, ternyata ada beberapa orang tua/wali murid yang mendapat perlakuan yang tidak nyaman atas anak mereka yang disekolahkan di PAUD Mutiara Harapan Islamic School.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun dari narasumber, salah satu orang tua dari murid PAUD Mutiara Harapan membenarkan adanya perlakuan yang tidak nyaman terhadap anak-anak yang hiperaktif, bahkan sempat dianjurkan oleh oknum guru  tersebut agar anak-anak yang hiperaktif atau yang tidak mampu mengetahui perkembangan di sekolah agar menyiapkan seorang psikiater selain ‘Shadow Teacher’ untuk membantu  merubah perilaku anaknya.

” Betul pak, saya juga kecewa dan keberatan dengan pihak sekolah yang tidak bisa mendidik anak kami menjadi lebih baik dan malah justru kami disuruh menyiapkan ‘Shadow Teacher’ untuk anak saya selama proses belajar disana, ini artinya kami menilai pihak sekolah belum siap menerima atas kekurangan dan kelebihan dari anak-anak kami,” Kata seorang Ibu muda (31th) yang minta kepada jurnalis Babel agar namanya tidak dituliskan.

Terkait permasalahan ini, Ibu Fatiah berencana akan melaporkan permasalahan ini kepada Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bangka Belitung (Babel) agar menjadi perhatian serius dan tidak ada perlakuan tidak baik kepada anak mereka yang bersekolah di PAUD Mutiara Harapan Islamic School kedepannya.

* Principle PAUD Mutiara Harapan Bantah Membeda-bedakan Murid

Sementara itu Principle PAUD Mutiara Harapan Islamic School, Suparmo mengatakan jika para tenaga pendidik di sekolahnya memang memiliki catatan tersendiri perihal perilaku setiap anak di sekolahnya.

Bahkan laporan tentang perilaku anak didik di sekolahnya kerap dilaporkan dengan cara mengirim video sehingga hal tersebut dengan maksud agar wali murid mengetahui jelas perilaku anaknya di sekolahnya.

“Namun laporan para guru itu terkadang dianggap menyudutkan. Padahal tujuan kita itu agar orang tua murid mengetahui bagaimana anaknya di sekolah,” Kata Suparmo ditemui wartawan di ruang kantornya, Rabu (04/03/2020).

Bahkan terkait persoalan kekecewaan seorang wali murid itu (Fatiah) sesungguhnya menurut ia bahwa Jaka murid di sekolahnya itu memang harus membutuhkan seorang tenaga pendamping namun dalam momen saat anak didik tersebut (Jaka) sedang bermain.

“Makanya kita butuh seorang pendamping atau pedamping saat dia (Jaka– red) sedang main atau ketika dia sendiri sedang tidak ada temen-temenya. Karena kalau dia main sama teman-temannya kita tidak tahu terjadinya kapan,” terang Suparmo.

Saat disinggung soal oknum guru Nu. sebelumnya hendak ditemui wali murid (Fatiah) namun tidak hadir guna mempertanyakan persoalan. Hal itu lantaran Suparmo mengaku jika Nu sendiri saat ini merasa tertekan lantaran permasalahan ia dengan wali murid (Fatiah) makin memanas.

“Ia (Nu — red) merasa tertekan karena merasa disalahkan Jadi apa yang dilakukan olehnya sesungguhnya serupa pula dilakukan oleh Nu dengan para murid lainnya atau tidak membeda-bedakan murid,” terangnya.

Begitu pula saat disinggung perihal permasalahan terjadi berawal dari obrolan di grup WA wali murid & guru PAUD Mutiara Harapan. Namun Suparmo menyangkal jika dirinya sama sekali tidak mengetahui hal itu lantaran ia sendiri tidak masuk dalam grup WA dimaksud.

“Untuk masalah di grup WA itu kami tidak tahu karena kami tidak masuk di grup WA tersebut. Tapi ketika saya ngobrol.dengan korlas ya biasa-biasa saja sih enggak sampai segitu. Bilangnya dibully tapi menurut korlas tidak sejauh itu,” bantahnya.