Kejati Babel Ekspos Prestasi Penyidikan Korupsi, Tapi Kok Forwaka Babel Ngumpet ?

oleh -

Pangkalpinang – Di saat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bangka Belitung (Babel) sedang unjuk prestasi di hadapan publik dan media terkait 2 (dua) produk besar giat lidik tindakan pidana korupsi (Tipikor) yakni dugaan tipikor korupsi timah SHP di PT Timah Tbk dan perkara kredit di BRI cabang Pangkalpinang, namun muncul keanehan pada sekelompok media binaan Kejati Babel itu sendiri, yang tak lain FORWAKA.

Keanehan tersebut sempat menjadi sorotan banyak wartawan yang hadir pada Selasa sore (02/06/2020) saat jumpa pers di Gedung Media Center yang dikomando langsung Kepala Kejati Babel Ranu Mihardja bersama asisten Intelijen Johnny Pardede dan Aspidsus Eddy Ermawan, dimana tak ada satupun pentolan pengurus Forwaka Kejati Bangka Belitung yang hadir meliput kegiatan ekpos tersebut.

Puncaknya menjadi canda sesama awak media yang hadir sore itu kala salah satu jaksa intelijen hendak mengisi buku kehadiran wartawan. Beberapa wartawan nyeletuk, wartawan Forwaka mana nih, harus ngisi absen pertama. Kalau wartawan lainya bukan Forwaka jadi gak usah ngisi.

Berbagai celetuk nyindir Pokja Forwaka, nampak terdengar di telinga asisten Johnny Pardede dan Eddy Ermawan. Namun Eddi dan Johnny hanya melepaskan senyum-senyum kecil di balik masker yang mereka kenakan itu.

Saat ditanyakan kepada Johnny Pardede kenapa pengurus Forwaka tak ada yang hadir satupun, padahal mereka merupakan media garda terdepan untuk ekspos prestasi Kejaksaan. Dia hanya lagi-lagi melepaskan senyum manisnya, sambil berkata, kalian lebih tahu lah sambil berlalu.

Sudah diketahui bersama, semenjak Pidsus Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung berjibaku menangani perkara korupsi pada 2 tubuh BUMN itu justru Pokja Forwaka Babel tak henti-hentinya disorot miring oleh publik dan internal Kejaksaan. Sorotan miring tersebut berawal dari kabar tak sedap yang menerpa ketua Forwaka Kejati Babel dan beberapa anggota Forwaka yang diduga menerima sejumlah uang dari seorang cukong timah asal Jebus yakni Agat guna meredam pemberitaan penyidikan perkara timah SHP.

Diketahui, juga Agat merupakan salah satu mitra/rekanan PT Timah sebagai kolektor atau pemasok bijih timah yang menjadi sorotan penyidik dalam pusaran perkara. Agat sendiri sudah pernah diperiksa intensif oleh penyidik Kejati Babel.

Persoalan semakin rumit dan nama baik Forwaka terus tercemar, setelah mengetahui Forwaka ‘nangguk’ dalam penyidikan ini, akhirnya dewan penasehat Forwaka yang merupakan pimpinan media mainstream undur diri. Tidak hanya itu, akibat rusaknya moral pengurus inti Forwaka itu semakin panjang daftar anggota-anggota yang keluar dari Pokja Forwaka bentukan Penkum Kejati lama yakni Roy Arland.

Sebetulnya juga, jauh sebelumnya sudah banyak keluhan datang dari internal Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung terutama dari jaksa-jaksa penyidik dan penuntut. Dimana Forwaka dikeluhkan tidak meliput eksistensi Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung yang sedang bertarung praperadilan dan persidangan atas perkara korupsi proyek PJU ESDM Bangka Belitung dengan tersangka Suranto Wibowo. Salah satu pejabat Kejaksaan saat itu mengeluh kenapa wartawan dan media yang tergabung dalam Forwaka tak hadir dan meliput memberitakan perjuangan serta kemenangan Praperadilan Kejati saat itu.

Pejabat yang gak mau disebut namanya saat itu sempat berujar, “Aneh kok Forwaka yang nempel di Kejaksaan tapi gak meliput prestasi Kejaksaan, ada apa ini,” sesalnya saat itu.