Michelin Siap Hadapi Tantangan Pasar Otomotif Indonesia dengan Teknologi dan Inovasi

Teknologi –Pasar mobil di Indonesia terus berkembang secara dinamis. Dalam situasi ini, Michelin Indonesia hadir untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal melalui inovasi teknologi, keberlanjutan yang ramah lingkungan, serta kenyamanan dalam berkendara. Dengan pengalaman global selama lebih dari seratus tahun dan kehadiran di Indonesia sejak 2011, Michelin tidak hanya menjual ban, tetapi juga menawarkan solusi mobilitas masa depan yang lebih baik.

“Kami selalu menyediakan solusi untuk mobilitas yang lebih baik, memberikan inovasi serta kualitas tinggi kepada pelanggan kami,” kata President Director Michelin Indonesia, Ichayut Kanittasoontorn saat diwawancarai oleh tim redaksi Teknologi dalam kunjungan ke kantor Michelin Indonesia di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (11/7).

Ia menekankan bahwa pasar Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, khususnya dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap ban yang menitikberatkan pada kualitas, keselamatan, dan kenyamanan. Menanggapi kebutuhan ini, Michelin memperkenalkan berbagai lini produk untuk kendaraan penumpang, sepeda motor, truk dan bus, hingga industri pertambangan. Mereka juga memperkenalkan beberapa sub-brand seperti BFGoodrich, Corsa, dan Michelin Two Wheels agar dapat mencakup berbagai segmen pasar.

Namun, selain sekadar perluasan variasi produk, inovasi menjadi faktor utama yang membuat Michelin tetap relevan di pasar. Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah Michelin Acoustic Technology, yang awalnya dikembangkan untuk kendaraan listrik (EV).

Menurut Ichayut, teknologi ini mengurangi suara bising pada roda dengan menggunakan busa akustik khusus yang kini digunakan oleh beberapa merek internasional. “Kami memiliki banyak teknologi yang tidak diikuti dan sebaiknya tidak diikuti oleh merek lain,” tegas Ichayut. Salah satu contohnya adalah Velvet Technology, yang memberikan tampilan visual yang lebih mencolok pada dinding ban. Teknologi ini hanya dimiliki oleh Michelin dan menjadi ciri khas yang kuat, terutama dalam segmen premium dan sepeda motor besar.

 

Dari Sirkuit ke Jalanan

Salah satu pendekatan khas Michelin adalah prinsip dari lintasan ke jalan raya, yakni menerapkan teknologi yang telah teruji dalam balapan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari di jalan umum. Tujuan dari hal ini adalah memberikan performa, ketahanan, dan keamanan terbaik pada ban yang digunakan konsumen.

“Ban itu paling melelahkan digunakan di mana? Di lintasan. Karena di sana ban dipaksa, dijadikan beban berat. Jika dia bertahan di sana, secara otomatis di jalan raya dia akan memiliki ketahanan yang lebih baik,” jelas Ichayut.

Teknologi seperti senyawa silika, misalnya, dikembangkan guna mengurangi hambatan gesekan roda, yang berdampak pada efisiensi konsumsi bahan bakar dan emisi karbon. Hampir seluruh rangkaian produk kendaraan empat roda Michelin kini telah menerapkan teknologi ini, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap isu lingkungan.

 

Strategi Pasar Kendaraan Listrik dan Pendekatan Kinerja yang Tahan Lama

Di tengah percepatan perkembangan kendaraan listrik, Michelin berada dalam posisi yang menguntungkan. Selain menyediakan produk khusus seperti Pilot Sport EV dan E-Primacy untuk mobil listrik, Michelin juga menyatakan bahwa seluruh rangkaian ban mereka cocok digunakan pada kendaraan listrik, bahkan sejak sebelum tren EV mulai meningkat.

“Michelin selalu memiliki indeks beban yang lebih tinggi dibandingkan pesaing, jarak tempuh yang lebih panjang, serta suara yang lebih rendah. Artinya, dengan munculnya kendaraan listrik ini, kami sudah siap sejak sebelum EV ada,” ujar Ichayut.

Beberapa produsen mobil listrik global yang saat ini menggunakan ban Michelin sebagai komponen asli adalah Hyundai Ioniq 5, Genesis, serta BYD dan X-Pang.

Masa depan Michelin tidak hanya berhenti pada teknologi akustik atau bahan velvet. Perhatian saat ini tertuju pada pengembangan bahan dan formula ban yang mampu menawarkan keseimbangan antara daya cengkeram maksimal dan umur pakai yang panjang. Teknologi ini dikenal sebagai Long Lasting Performance Technology.

“Bagaimana kita bisa menciptakan ban ini dengan daya cengkeram yang baik, tetapi performanya tahan lama? Artinya formula yang diubah. Dan hal itu tidak bisa diadopsi oleh merek lain,” kata Ichayut.

Dengan pendekatan ini, Michelin berupaya memastikan bahwa kinerja ban tetap stabil sejak awal hingga akhir masa penggunaannya, mengatasi kekhawatiran konsumen terhadap penurunan kualitas seiring berjalannya waktu.

 

Komitmen Berkelanjutan Mulai dari Hulu Sampai Hilir

Tidak hanya pada hasil akhir, komitmen Michelin terhadap keberlanjutan juga mencakup seluruh rantai pasok. Mereka memastikan bahan baku, seperti karet, diperoleh dari petani yang menerapkan prinsip tidak ada deforestasi. Proses produksi hingga pengiriman juga dirancang agar memberikan dampak minimal terhadap lingkungan. Selain itu, komitmen Michelin terhadap keberlanjutan tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga melibatkan seluruh rantai pasok. Mereka menjamin bahwa bahan baku seperti karet berasal dari petani yang mengadopsi prinsip zero deforestation. Proses produksi dan distribusi juga disusun agar mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Tidak hanya pada produk akhir, komitmen Michelin terhadap keberlanjutan juga melibatkan seluruh proses dalam rantai pasok. Mereka memastikan bahan baku, termasuk karet, diambil dari petani yang menjalankan prinsip tidak ada deforestasi. Seluruh tahapan produksi hingga distribusi dirancang untuk mengurangi gangguan terhadap lingkungan.

“Kami yakin bahwa metode terbaik untuk meminimalkan dampak lingkungan adalah dengan seluruh prosesnya. Jadi, bukan hanya bannya saja,” katanya. (*)

Related posts