Sekilas Tentang ” Syamsir Alam, ” dari Dunia Persilatan hingga Organisasi (1971 – 2022)

PEKANBARU – Ditemui di perumahan sederhana didaerah Sidomulyo, Syamsir Alam (74 tahun), orang tua dari Miftahul Syamsir berkisah tentang pengalamannya didunia persilatan dan sejumlah organisasi semasa hidupnya.

Ditemani dua gelas kopi dan sebungkus rokok, Pak Syamsir mulai mengisahkan, bahwa tahun 1971 ia sudah menetap di Kota Pekanbaru, tepatnya dijalan Ade Irma Suryani, Desa Sumahilang, Belakang Gereja HKBP Hang Tuah.

Setelah menikah beliau menjadi murid pertama di Perguruan Seni Silat dan Keimanan (Sesiki) tahun 1975 – 1976 dipasar 50 Tanjung Rhu, dengan guru alm. Bang Taher Jambang (orang tua Epi Taher), yang awalnya beranggotakan sekitar 5 orang.

Baca : Prinsip-prinsip Beladiri dalam Pencak Silat Jadi Kode Etik Para Pendekar

” Waktu itu kami basumpah, atas nama kekeluargaan, bahwa anak Guru berarti anak murid, anak murid berarti anak Guru, potong ayam dan nasi kuning, ” ungkap Pak Syamsir yang merupakan anak kesayangan alm. bang Taher.

” Zaman itu apak belaja silek ke pasa 50 jalan kaki dari Sumahilang, dan berkat bantuan alm. Bang Taher, apak berhasil menjadi juri dibeberapa pertandingan silek bersama adiknyo Alm. Fakir (AF Selong), ” kenangnya.

Lebih lanjut Pak Syamsir juga mengisahkan bahwa dalam menekuni dunia persilatan, dirinya selalu diminta untuk menjadi wasit disejumlah pertandingan, hingga mengajar bagaimana cara menjadi wasit pertandingan.

Baca : Pengertian Pencak Silat: Sejarah dan Tujuan Lengkap

” Beberapa perguruan silek yang apak ingek di Pekanbaru waktu itu, ado Perguruan Perisai Diri, ado Harimau Lalok, Pangean, Sisatgu, Okayusi, ” kenang Pak Syamsir sambil menghisap rokoknya.

Iapun kemudian mengeluarkan selembar foto lama dan sebuah logo perguruan silat yang sudah usang sambil melanjutkan kembali kisahnya. 

” Tahun 1979 – 1983, apak lanjut belaja silek ke Perguruan Sunan Gunung Jati Al Hikmah, waktu itu Gurunyo Alm. Beni Suardi beliau Dinas di Kopasus AURI, ” sebutnya.

Bersama 6 pesilat lainnya, tahun 1983 pak Syamsir kemudian bergabung dengan Perguruan Silat Besar Al Hikmah Banten Cisoka dengan guru besar KH. Ahmad Syakih dan perawatnya Ustad. H. Arifin Maulana Jakarta Timur.

Baca : Induk Organisasi Pencak Silat di Indonesia adalah IPSI, Begini Sejarah dan Perkembangannya

” Kemudian apak sempat baguru ke Pati Jepara Jawa Timur dengan Guru Alm. KH. Kharsan dan diberi ijazah untuk menjadi Guru Silek, beliaulah yang memberi namo si Uul ko, Miftahul Syamsir, ” ungkap Pak Syamsir.

Pada tahun 1981 – 1983 Pak Syamsir Alam kemudian memulai riwayat organisasinya sebagai Ketua Karang Taruna Kelurahan Kota Baru.

Tahun 1987, beliau kemudian bergabung bersama Pemuda Pancasila (PP) dengan jabatan ketua PAC Pekanbaru Kota dibawah kepemimpinan ketua DPC Ngehri Mangkuto Ameh dengan ketua DPW Riau H. Jufri Hasan Basri.

Dizaman Yoyok Wardoyo Ketua DPW PP Riau, beliau dilantik langsung oleh bang Yoris Raweyai sebagai Koti Mahatidana pertama diRiau, ” waktu itu Koti pusat namanya Syamsir Hakim yang biasa dipanggil Samtana, ” ungkap Syamsir Alam.

Baca : Sejarah Berdirinya Pemuda Pancasila, Fakta, dan Sepak Terjangnya

” Basamo Zul Libanon, Man Laggo, Poyomng Frans, Bujang Tangkurak, Bujang Afrizal, kemudian apak diminta jadi assisten teritorial. Pelantikan waktu itu dilaksanakan di Duri, ” ungkap Syamsir Alam menambahkan.

Beliau juga pernah juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Pemuda (Forkomda) Pekanbaru Kota 1982 – 1983 yang kemudian menjadi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), yang diketuai oleh Alm. H. Herman Abdullah.

Syamsir Alam kemudian bergabung di Forum Komunikasi Karang Taruna Provinsi Riau sebagai Sekretaris, yang diketuai oleh Alm. Akirman Defrianto (1983 – 1986).

” Waktu itu dizaman alm. Farouq Alwi Walikota, ada komitmen antara KNPI dan Karang Taruna, dimana ada bendera KNPI disitu ada bendera Karang Taruna, ” sebut Syamsir Alam.

Baca : Dibutuhkan Mental Pendekar untuk Pertahankan Budaya Bangsa

Seiring perjalanan beliau sering ditunjuk sebagai wasit pertandingan silat, hingga pada 1998 – 1999 ia diminta membantu membesarkan Ikatan Pencak Silat (IPSI) Provinsi Riau dengan jabatan Sekretaris.

” Tahun 2009 apak kemudian mendirikan media cetak Riau Wicara yang beralamat dijalan Singgalang dan sekaligus mendirikan DPP LSM Gapura, ” sebut Syamsir Alam.

Seiring waktu beliau juga pernah menjadi ketua Korps Senior Wartawan Republik Indonesia (KOSWARI) Provinsi Riau tahun 2012 – 2017 dibawah Ketum Alm. Kanter Siahaan.

Diakhir kisahnya, Bersempena 28 Oktober 2022 Syamsir Alam (74 tahun) berpesan kepada seluruh generasi muda Riau, ” junjung tinggi sportifitas dan hargailah komitmen. Selamat Hari Sumpah Pemuda, ” tutupnya sambil menepuk pundak anak kesayangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *